Semesta, aku kembali.
Aku sempat berniat takkan menginjakkan kaki untuk kesekian kalinya ke sini. Namun, di sinilah segala resah dan gundah yang kurasakan dapat menepi.
Kukira, air mata dan kecewaku sudah usai. Kukira, sedihku takkan mampir lagi. Parahnya, kukira aku sudah diijinkan untuk bahagia kembali.
Bodoh sekali diriku, ya?
Bodohnya aku kembali percaya pada cinta. Cinta yang katanya menyejukkan hati. Cinta yang katanya membuat orang senyum-senyum sendiri. Semesta saja belum mengijinkanku untuk dicintai, tapi aku malah keras kepala memberikan jantung hati.
Semesta, kau pasti tahu kan akhirnya akan begini? Kenapa kau biarkan aku jatuh hati? Bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga hati agar tak terlukai lagi? Kalau sudah sampai sejauh ini, bisakah aku berhenti mencintai? Bisakah hatiku utuh seperti sedia kala lagi? Harusnya kau biarkan aku seorang diri. Aku lelah selalu seperti ini. Memberi sepenuh hati, namun selalu berakhir dilukai. Lalu, kalau sudah begini siapa yang akan menyembuhkan hati?
Teruntuk orang yang kucintai, aku akan berusaha mempersiapkan diri juga menguatkan hati. Jadi, seandainya nanti kamu pergi, aku masih sanggup berdiri. Masih sanggup memulai hari. Masih sanggup tersenyum lagi. Meskipun sebenarnya yang kuharapkan adalah kehadiran dirimu kembali.
Satu pesanku, ingatlah bahwa aku tak pernah benar-benar bisa berhenti mencintai, sekalipun nanti kau meninggalkanku pergi. Aku memang dilahirkan begini. Mempunyai hati yang ditakdirkan tulus menyayangi sampai ajal menanti.