Selasa, 29 September 2020

Pesan untuk Semesta

Semesta, bagaimana kabarmu? Kuharap kamu baik-baik saja dan punya cukup waktu untuk membaca pesanku ini.

Aku sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sungguh, aku tidak pernah mengira akan tersakiti kembali. Bodohnya aku termakan oleh janji manis lagi. Aku bertanya-tanya, apakah janji sehidup semati hanyalah fiksi?

Jujur, aku mengira dia lah orang yang terakhir kali singgah di hati ini. Ironisnya justru dia yang membuangku layaknya makanan yang sudah basi. Bahkan air mataku tidak dianggap sama sekali. Seolah-olah ia sudah muak dengan diri ini. Kalau sudah begini, aku sadar aku harus benar-benar pergi. Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini.

Senin, 14 September 2020

Semesta yang Mengingkari Janji

Semesta, aku kembali. 

Aku sempat berniat takkan menginjakkan kaki untuk kesekian kalinya ke sini. Namun, di sinilah segala resah dan gundah yang kurasakan dapat menepi.

Kukira, air mata dan kecewaku sudah usai. Kukira, sedihku takkan mampir lagi. Parahnya, kukira aku sudah diijinkan untuk bahagia kembali.

Bodoh sekali diriku, ya?

Bodohnya aku kembali percaya pada cinta. Cinta yang katanya menyejukkan hati. Cinta yang katanya membuat orang senyum-senyum sendiri. Semesta saja belum mengijinkanku untuk dicintai, tapi aku malah keras kepala memberikan jantung hati.

Semesta, kau pasti tahu kan akhirnya akan begini? Kenapa kau biarkan aku jatuh hati? Bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga hati agar tak terlukai lagi? Kalau sudah sampai sejauh ini, bisakah aku berhenti mencintai? Bisakah hatiku utuh seperti sedia kala lagi? Harusnya kau biarkan aku seorang diri. Aku lelah selalu seperti ini. Memberi sepenuh hati, namun selalu berakhir dilukai. Lalu, kalau sudah begini siapa yang akan menyembuhkan hati?

Teruntuk orang yang kucintai, aku akan berusaha mempersiapkan diri juga menguatkan hati. Jadi, seandainya nanti kamu pergi, aku masih sanggup berdiri. Masih sanggup memulai hari. Masih sanggup tersenyum lagi. Meskipun sebenarnya yang kuharapkan adalah kehadiran dirimu kembali.

Satu pesanku, ingatlah bahwa aku tak pernah benar-benar bisa berhenti mencintai, sekalipun nanti kau meninggalkanku pergi. Aku memang dilahirkan begini. Mempunyai hati yang ditakdirkan tulus menyayangi sampai ajal menanti.

Sabtu, 25 Februari 2017

Lelah

Aku lelah.

Aku lelah menahan rindu terus-menerus. Rindu yang setiap hari menghantui kemanapun aku pergi. Rindu yang menyiksaku.

Aku lelah hanya dapat menunggumu di sini. Menunggumu untuk kembali bersamaku, melalui hari-hari yang pahit ini.

Aku lelah mengukirkan senyuman yang pura-pura. Senyuman yang sebenarnya menyiratkan kepedihan dan tangisan.

Aku lelah menjalani hari-hari tanpamu. Tanpa kamu yang selalu mampu membuatku tersenyum. Tanpa kamu, sumber kebahagiaanku.

Aku terlalu lelah dengan semua ini.

Bahkan karena itu semua, kebahagiaanku sampai memudar entah ke mana. Seperti ada yang merampasnya paksa.

Aku ingin menjalani hidup seperti sedia kala. Seperti dulu saat kamu selalu berada di sampingku. Aku ingin baik-baik saja, bukan berpura-pura baik-baik saja. Aku ingin tersenyum dengan tulus, bukan senyum terpaksa. Aku ingin mataku menyorotkan kebahagiaan, bukan kepedihan.

Intinya aku ingin bahagia.

Rapuh


Petang berganti malam
Bulan dengan setia menunggu bintang
Namun bintang tak kunjung datang

Kau tahu?
Bulan tak pernah suka sendirian
Ia lebih suka bersama bintang
Menerangi gelapnya langit malam

Bulan kesepian tanpa bintang
Cahayanya tak mampu menerangi bumi sendirian
Langit malam tak indah tanpa kelap-kelip bintang

Apa kau sadar?
Aku dan kamu ibarat bulan dan bintang
Aku bulan
Dan kamu bintang

Aku butuh kamu di sini
Untuk mewarnai hidup abu-abuku
Membuatnya menjadi lebih berwarna

Ketika mentari menyapa
Aku menyunggingkan seulas senyuman
Senyuman yang dipaksakan
Senyuman yang menutupi kepedihan
Senyuman yang pura-pura diikhlaskan

Namun..
Ketika malam tiba
Aku rapuh
Benar-benar rapuh

Aku selalu berusaha untuk terlihat kuat
Di depan siapa saja
Termasuk kamu
Mengapa?
Karena aku tak mau melihatmu rapuh sepertiku
Aku tak akan mampu

Kumohon
Biar aku saja yang menanggung rapuh ini
Sendiri
Tanpa seorangpun yang tahu